Biografi K.H. Arwani Amin Sa'id dari Kudus Jawa Tengah Indonesia (Mbah Arwani)

by Muhammad Abdul Rahman Annaji on 07:55 AM, 08-Aug-13

Category: Artikel , Biographi

aslamu.jpgsholawat-tibbil-qulub.jpgmbh-arwani.jpg Sosok Alim, Santun dan Lembut Image Yanbuul Quran Adalah pondok huffadz terbesar yang ada di Kudus.
Santrinya tak hanya dari kota Kudus. Tetapi dari berbagai kota di Nusantara. Bahkan, pernah ada beberapa santri yang datang dari luar negeri seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.
Pondok tersebut adalah pondok peninggalan KH. M. Arwani Amin Said. Yaitu salah satu Kyai Kudus yang sangat dihormati karena kealimannya, sifatnya yang santun dan lemah lembut pula.

KH. M. Arwani Amin Sa'id dilahirkan dari pasangan H. Amin Said dan Hj. Wanifah pada Selasa Kliwon, 5 Rajab 1323 H. bertepatan dengan 5 September 1905 M di Desa Madureksan Kerjasan, sebelah selatan masjid Menara Kudus. Nama asli beliau sebenarnya Arwan. Tambahan I di belakang namanya menjadi Arwani itu baru dipergunakan sejak kepulangannya dari Haji yang pertama pada 1927. Sementara Amin bukanlah nama gelar yang berarti orang yang bisa dipercaya. Tetapi nama depan Ayahnya; Amin Said.

KH. Arwani Amin adalah putera kedua dari 12 bersaudara. Saudara-saudara beliau secara berurutan adalah Muzainah, Arwani Amin, Farkhan, Sholikhah, H. Abdul Muqsith, Khafidz, Ahmad Dain , Ahmad Malikh, Ianah , Nimah , Muflikhah dan Ulya. Dari sekian saudara Mbah Arwani (demikian panggilan akrab KH. M. Arwani Amin), yang dikenal sama- sama menekuni al-Quran adalah Farkhan dan Ahmad Dain. Ahmad Dain, adiknya Mbah Arwani ini bahkan terkenal jenius. Karena beliau sudah hafal al-Qur an terlebih dahulu daripada Mbah Arwani. Yakni pada umur 9 tahun. Ia bahkan hafal Hadits Bukhori Muslim dan menguasai Bahasa Arab dan Inggris. Kecerdasan dan kejeniusan Dain inilah yang menggugah Mbah Arwani dan adiknya Farkhan, terpacu lebih tekun belajar. Konon, menurut K.H. Syaroni Ahmadi, kelebihan Mbah Arwani dan saudara- saudaranya adalah berkat orang tuanya yang senang membaca al-Quran. Selain barokah orang tuanya yang cinta kepada al-Qur an, K.H. Arwani Amin sendiri adalah sosok yang sangat haus akan ilmu. Ini dibuktikan dengan perjalanan panjang beliau berkelana ke berbagai daerah untuk mondok, berguru pada ulama-ulama. Tak kurang, 39 tahun beliau habiskan untuk berkelana mencari ilmu. Diantara pondok pesantren yang pernah disinggahinya menuntut ilmu adalah pondok Jamsaren (Solo) yang diasuh oleh Kyai Idris, Pondok Tebu Ireng yang diasuh oleh K.H. Hasyim Asyari dan Pondok Munawir (Krapak) yang diasuh oleh Kyai Munawir.

Selama menjadi santri, Mbah Arwani selalu disenangi para Kyai dan teman-temannya karena kecerdasan dan kesopanannya. Bahkan, karena kesopanan dan kecerdasannya itu, KH. Hasyim Asyari sempat menawarinya akan dijadikan menantu. Namun, Mbah Arwani memohon izin kepada K.H. Hasyim Asyari bermusyawarah dengan orang tuanya. Dan dengan sangat menyesal, orang tuanya tidak bisa menerima tawaran K.H. Hasyim Asyari, karena kakek Mbah Arwani (KH. Haramain) pernah berpesan agar ayahnya berbesanan dengan orang di sekitar Kudus saja. Akhirnya, Mbah Arwani menikah dengan Ibu Nyai Naqiyul Khud pada 1935. Bu Naqi adalah puteri dari K.H. Abdullah Sajad, yang sebenarnya masih ada hubungan keluarga dengan Mbah Arwani sendiri. Dari pernikahannya dengan Bu Naqi ini, Mbah Arwani diberi empat keturunan.
Namun yang masih sampai sekarang tinggal dua, yaitu K.H. M. Ulinnuha dan K.H. M. Ulil Albab, yang meneruskan perjuangan Mbah Arwani mengasuh pondok Yanbu sampai sekarang. Yah, demikian besar jasa Mbah Arwani terhadap Ummat Islam di Indonesia terutama masyarakat Kudus, dengan kiprahnya mendirikan pondok yang namanya dikenal luas hingga sekarang.
Banyak Kyai telah lahir dari pondok yang dirintisnya tersebut. KH. Syaroni Ahmadi, KH. Hisyam, KH. Abdullah Salam (Kajen) , KH. Muhammad Manshur, KH. Muharror Ali (Blora), KH. Najib Abdul Qodir (Jogja), KH. Nawawi (Bantul), KH. Marwan (Mranggen), KH. Ah. Hafidz (Mojokerto), KH. Abdullah Umar (Semarang), KH. Hasan Mangli (Magelang), adalah sedikit nama dari ribuan Kyai yang pernah belajar di pondok beliau.

Kini, Mbah Arwani Amin telah tiada. Beliau meninggal dunia pada 1 Oktober 1994 M. bertepatan dengan 25 Rabiul Akhir 1415 H.
Beliau meninggal dalam usia 92 tahun. Namun, meski beliau telah meninggal dunia, namanya tetap harum di hati sanubari masyarakat. Pondok Yanbuul Quran , Madrasah TBS, Kitab Faidlul Barakat dan berbagai kitab lain yang sempat ditashihnya, menjadi saksi perjuangan beliau dalam mengabdikan dirinya terhadap masyarakat, ilmu dan Islam.
sumber : rhs.jpg

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

2 responses to "Biografi K.H. Arwani Amin Sa'id dari Kudus Jawa Tengah Indonesia (Mbah Arwani)"

TriyaMobile [04:22 PM, 08-Aug-13]

Assalamu'alaikum WR.WB

Minal aidin walfaizin..
Mari bersilaturahmi ke blog saya, semoga yang bersilaturahmi dan berkomentar dengan baik di blog saya mendapatkan berkahranger

Mohon maaf jika hanya bisa berkomentar MANTAP POSTINGNYA!!!

Wassalamu'alaikum WR.WB

( http://triyamobile.mywapblog.com/lebaran-tiba.xhtml )

Annaji [02:30 PM, 11-Aug-13]

@TriyaMobile,
Wa'alaikumussalam wr. wb.

Trimakasih atas kunjungan dan komentar anda, dan saya juga minta ma'af kalo ada salah dg anda smile

Wa'alaikumussalam wr. wb.

Subscribe to comment feed: [RSS] [Atom]

New Comment

[Sign In]
Name:

Email:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images